Selamat datang di website kami 'seishinkanaikikai.com'
Anda berada di: Home > Artikel > Mengenal Aikido

Mengenal Aikido

Aikido pada dasarnya adalah manifestasi modern dari seni bela diri Jepang (Budo). Seni ini berasal dari tradisi peperangan pada periode Tokugawa (1603-1868) yang kemudian diformalkan dalam bentuk disiplin sehingga harus dimaknai dengan benar sebagai warisan sejarah dan budaya.

Dalam Bahasa Jepang kata "Ai-Ki-Do" mempunyai makna “Harmoni-Energi-Cara” atau “Jalan Keselarasan”. Masing-masing istilah ini menekankan aspek perspektif fundamental tertentu :

       

 

1.  Ai.  Berarti “Harmonisasi atau Menyelaraskan”, dipahami sebagai mengatasi situasi konflik. Tujuan Aikido melampaui tentang menang atau kalah dan mencari resolusi.

2.  Ki. Berarti “Energi”, pada dasarnya energi bersifat terbuka, energik, cair dan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi berada. Karena itulah energi disebut sebagai tanpa bentuk.

3.  Do. Berarti “Jalan atau Cara”, dimana praktik ini lebih dari sekadar mempelajari serangkaian gerakan baru tetapi melibatkan pemahaman baru sehubungan dengan kondisi dan eksekusi dalam setiap situasi yang berbeda.

Kemudian timbul pertanyaan, “Apa itu Aikido?”. Sulit untuk menjelaskan dalam sebuah kalimat, bahkan praktisi tingkat lanjut sekalipun mengalami akan kesulitan dalam memberikan jawaban langsung. Selain itu, orang yang melihat gerakan dan teknik aikido untuk pertama kalinya bingung atau skeptis dan memiliki banyak keraguan dan pertanyaan. Orang-orang seperti itu termasuk dalam salah satu dari dua kelompok.

Kelompok pertama terdiri dari mereka yang menonton aikido dengan asumsi tertentu tentang seni bela diri, berdasarkan apa yang telah mereka dengar atau baca. Saat melihat demonstrasi Aikido, reaksi umum mereka adalah sebuah kekecewaan, karena mereka berharap untuk melihat tampilan kekerasan, pertempuran dan bahkan teknik mematikan. Sepintas Aikido dengan gerakannya yang indah mengalir, tampak tanpa kekerasan, bahkan pasif. Yang sering terdengar adalah komentar seperti: “Semuanya tampaknya dikoreografikan dan sudah diatur”. “Dalam situasi darurat itu tidak akan berguna”, dan seterusnya. Kritik ini dapat dimengerti dan datang terutama dari mereka yang mencari sensasi dalam kompetisi atau dari mereka yang memiliki stereotip seni bela diri yang terdiri dari menendang, memukul dan menghancurkan lawan.

Kelompok kedua adalah mereka yang telah berkenalan dengan seni bela diri modern sebelumnya, terutama bentuk kompetitif mereka, dan melihat Aikido dari sudut pandang itu. Kritik mereka bermacam-macam: “Mengapa Aikido tidak mengadakan turnamen seperti Judo, Karate, dan Kendo ?”. “Mengapa Aikido terbatas pada demonstrasi publik yang membosankan?”. “Karena tidak ada turnamen, tidak mungkin untuk mengatakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah”. “Tanpa turnamen tidak ada praktisi yang akan berlatih dengan serius”. Sekali lagi, kritik itu bisa dimengerti, karena orang umumnya ingin melihat siapa yang memiliki teknik terbaik dan siapa yang terkuat.

Pertanyaan naif tetapi umumnya diajukan, “Bisakah seseorang memenangkan pertarungan jika dia menguasai Aikido?”

Semua pertanyaan dan kritik ini mengungkapkan ketidaktahuan tentang prinsip dasar Aikido dan kesalahpahaman tentang karakteristik utama seni bela diri ini, yaitu pelatihan spirit. Jika seseorang yang tidak memiliki disiplin diri ingin memamerkan kecakapan fisiknya dan berusaha mempelajari Aikido hanya karena teknik bertarungnya, dia akan tidak akan berhasil. Tanpa benar-benar berlatih dengan kesabaran dan mengalami seni ini secara langsung, pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab dengan puas.

                                                             

Kisshomaru Ueshiba, Morihei Ueshiba & Koichi Tohei

 

Pelatihan aktual dalam Aikido adalah satu-satunya cara untuk memahami signifikansi dan mendapatkan manfaatnya. Sebagian besar praktisi Aikido telah melalui proses seperti itu –dimulai dengan keraguan dan pertanyaan, memulai latihan, kemudian secara bertahap berkenalan dengan metode dan bentuk Aikido. Seseorang yang telah melalui siklus ini akan mempelajari beberapa hal tentang Aikido yang menjadikannya seni bela diri yang unik. Kemudian merasakan daya tariknya yang luar biasa dan akhirnya menemukan ukuran realisasi dari kedalamannya yang tak terukur.

Kesan pertama saat berlatih, dia akan terkejut. Berbeda dengan penampilan “lembut” yang terlihat dalam demonstrasi publik, seni Aikido rupanya “keras”, kuat dan dinamis, dengan kuncian pergelangan tangan yang kuat dan juga serangan langsung (atemi). Bertentangan dengan apa yang mungkin diasumsikan, Aikido mengandung beberapa teknik yang menghancurkan, terutama yang dimaksudkan untuk melucuti senjata dan menaklukkan musuh.

Selanjutnya, bahkan pada tingkat pemula, merasakan betapa rumit dan sulitnya melakukan teknik dan gerakan dasar seperti jatuh (ukemi), mengatur jarak yang tepat (maai), masuk (irimi) dan gerakan tubuh lainnya (sabaki). Faktanya adalah bahwa seluruh tubuh, bukan hanya lengan atau kaki, harus bergerak terus menerus secara terkoordinasi, dan ini harus dilakukan dengan kecepatan, semangat, dan kekuatan. Konsentrasi, kelincahan, keseimbangan dan tindakan refleks yang luar biasa diperlukan untuk menampilkan waza dengan lancar dan cepat.

Dia juga akan menyadari pentingnya kontrol napas, yang mencakup pernapasan normal, tetapi sesuatu yang jauh lebih yang terhubung dengan energi (ki). Penguasaan kekuatan nafas ini adalah dasar untuk setiap gerakan dan eksekusi serta memastikan kelangsungan aliran dalam gerakan. Selain itu, ini terkait erat dengan filosofi budo yang dikembangkan oleh O’Sensei Morihei Ueshiba.

Akhirnya, seiring dengan kemajuan hasil latihannya dia akan mulai menyadari banyaknya teknik dengan variasi dan aplikasinya, semuanya dicirikan oleh rasionalitas dan penuh perhitungan. Setelah mengalami kompleksitas gerakan Aikido, dia akan memahami sentralitas ki, kemudian mulai merasakan kedalaman teknik Aikido sebagai seni bela diri.

Melalui pelatihan aktual seseorang akan menyadari sepenuhnya pelatihan Aikido sebagai suatu nilai disiplin tinggi. Hanya dengan begitu seseorang dapat memahami sepenuhnya penolakan kompetisi dan turnamen dalam Aikido menjadi suatu pelatihan disiplin, dan bukan pencapaian ego.

 

                                                             

 Morihei Ueshiba di Noma Dojo, sekitar tahun 1936

 

( Bondhan Adi Pratomo , “The Spirit of Aikido”, Kisshomaru Ueshiba, Kodansha International, 1987 )

 

 

Hubungi Kami

0852 8329 5393

0878 0964 2000

 

Contact Button

Info Kami

Seishinkan Aikikai Dojo Merupakan Anggota Dari Federasi Indonesia Aikikai (FIA) Yang Berafiliasi Ke Aikikai Hombu Dojo  Jepang.​

  

   

Powered by CMSimple

nach oben
SELLECT LANGUAGE